Ideanews.co, Samarinda — Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur memilih bergerak ke belakang, bukan untuk mundur, tapi untuk menemukan kekuatan dari akar.
Melalui pembinaan olahraga tradisional atau inorga, Dispora Kaltim berupaya menghidupkan kembali warisan budaya sebagai jalan baru membangun karakter generasi muda.
Menurut Bagus Saputra Sugiarta, Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, inorga lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ia adalah warisan sosial yang menyimpan nilai-nilai luhur, mulai dari kebersamaan, kejujuran, hingga kesadaran identitas budaya.
“Kalau cabor berbicara medali, inorga berbicara jati diri. Ini cara kita mengajak anak muda kembali mengenal siapa dirinya lewat permainan yang diwariskan turun-temurun,” ujar Bagus, Jumat (20/6/2025).
Permainan seperti menyumpit, balogo, panahan tradisional, hingga enggrang bukan sekadar bentuk rekreasi. Ia menjadi medium pembelajaran karakter, disiplin, dan filosofi hidup masyarakat lokal. Dispora pun melihat geliat komunitas inorga yang bermunculan di berbagai daerah sebagai peluang untuk membangun ekosistem olahraga berbasis budaya.
Bagus menyebut, generasi muda saat ini sebenarnya masih merindukan bentuk aktivitas yang otentik. Inorga, dalam pandangan Dispora, mampu menjawab kerinduan itu, karena menggabungkan aspek gerak tubuh, makna sosial, dan ekspresi budaya yang nyaris tak ditemukan dalam sistem pendidikan formal.
“Yang kita kembangkan bukan sekadar event. Tapi sistem. Kita latih pelatih, kita sertifikasi juri, dan kita siapkan ruang-ruang publik agar permainan ini tumbuh alami di tengah masyarakat,” jelasnya.
Strategi ini semakin diperkuat dengan posisi Kaltim sebagai tuan rumah Tafisa Asian Games 2026, ajang olahraga rekreasi dan tradisional yang akan dihadiri ribuan peserta dari negara-negara Asia. Dispora berharap momentum ini bisa membawa inorga Kalimantan Timur, seperti menyumpit atau enggrang, tampil di panggung internasional.
Namun lebih dari sekadar tampil, yang diinginkan Dispora adalah membangkitkan rasa bangga di dada anak-anak muda Kaltim. Ketika mereka berdiri memainkan permainan leluhur di depan dunia, saat itulah benih kepercayaan diri dan kesadaran budaya tumbuh kuat.
“Yang kita tanam bukan cuma keterampilan. Tapi rasa percaya diri dan akar budaya yang membuat anak-anak kita tidak mudah kehilangan arah,” tegas Bagus.
Dispora meyakini bahwa olahraga tak lagi hanya soal kompetisi atau fisik semata. Ia bisa menjadi ruang pembelajaran lintas usia, lintas budaya, dan lintas nilai. Dalam olahraga tradisional tersimpan nilai filosofis yang mendalam, mulai dari sportivitas, kesabaran, hingga kerja tim — yang semuanya penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya sehat, tetapi juga tangguh secara sosial dan emosional.
Untuk itu, Bagus berharap seluruh pihak pemerintah kabupaten/kota, sekolah, organisasi pemuda, hingga orang tua ikut terlibat. Inorga harus diberi ruang, bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai bagian aktif dari kehidupan generasi kini.
“Kalau kita ingin anak-anak tumbuh kuat dan tidak tercerabut, maka berilah mereka akar. Akar itu bisa kita tanam lewat permainan tradisional yang kaya makna,” pungkasnya. (Adv)









