Dispora Kaltim Dorong Bela Diri sebagai Pilar Ketahanan Moral Pemuda di Tengah Krisis Karakter

Ideanews.co, Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur mengambil langkah strategis menjadikan olahraga bela diri, terutama pencak silat, sebagai instrumen pembinaan karakter sekaligus benteng budaya dalam menghadapi krisis moral dan pengaruh negatif budaya asing.

Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, Bagus Saputra Sugiarta, menegaskan bahwa olahraga bela diri bukan hanya soal kemampuan fisik, melainkan juga sarat nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap jati diri dan budaya bangsa.

“Kami tidak ingin generasi muda hanya kuat secara intelektual, tapi juga rentan secara karakter. Dalam era di mana anak-anak mudah terpapar konten tanpa filter, bela diri menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Bagus (20/6/2025).

Bagus menjelaskan, pencak silat dan cabang bela diri lainnya mengajarkan filosofi penting seperti penghormatan kepada guru, pengendalian diri, serta menjaga kehormatan keluarga dan bangsa. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk membentengi pemuda dari arus budaya instan dan gaya hidup modern yang kerap melemahkan karakter.

Program pembinaan yang dijalankan Dispora mengintegrasikan pelatihan teknis dan pendidikan karakter, menyasar pelajar mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Kompetisi bela diri juga difokuskan bukan semata adu fisik, melainkan sebagai wadah membangun solidaritas dan semangat kebangsaan antar peserta.

“Kami ingin pemuda memiliki daya tahan moral yang kuat, tidak mudah goyah oleh tekanan media sosial, lingkungan negatif, dan budaya kekerasan,” tambah Bagus.

Dispora aktif mendorong kerja sama dengan sekolah dan organisasi pelajar agar bela diri menjadi bagian dari ekstrakurikuler berkelanjutan. Panduan pembinaan karakter berbasis olahraga tradisional pun tengah disusun sebagai pedoman sistem pembelajaran yang terstruktur.

Dalam konteks Kalimantan Timur sebagai pintu gerbang Ibu Kota Negara, penguatan identitas budaya melalui bela diri dinilai vital untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan modern dan akar tradisi.

“Silat bukan hanya gerakan tubuh, tetapi juga nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Jika hilang, kita kehilangan kekuatan penting dalam pembentukan karakter bangsa,” tegas Bagus.

Di tengah meningkatnya kekerasan remaja dan dekadensi moral, pendekatan Dispora ini menjadi jawaban atas tantangan pendidikan formal yang belum cukup menjawab persoalan zaman.

“Olahraga bela diri kini jadi garda terdepan pembentukan generasi yang tangguh secara etika dan budaya, bukan hanya sehat jasmani,” pungkasnya. (Adv)

Related posts

banner 868x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *