Ideanews.co, Samarinda – Aroma panas politik kembali naik ke permukaan. Sosok Mudyat Noor, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) terpilih yang dikenal sebagai aktivis reformasi dan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), lagi-lagi menjadi sorotan setelah kehadirannya di Rakerda DPD Partai Gerindra Kaltim memicu spekulasi liar tentang kemungkinan “ganti baju” politik.
Minggu (23/11/2025), di Ballroom Hotel Puri Senyiur Samarinda, Mudyat Noor terlihat hadir mengenakan kemeja putih khas Gerindra. Senyum, foto bersama kader, dan momen kebersamaan itulah yang kemudian tersebar cepat di media sosial. Publik pun mulai bertanya-tanya: Apakah Mudyat Noor sudah ber-KTA Gerindra? Apakah ini sinyal perpindahan partai?
Desas-desus itu semakin menguat karena Mudyat Noor memang memiliki rekam jejak panjang dengan berbagai poros politik. Sebagai mantan aktivis HMI, alumni reformasi 98, mantan legislator provinsi, hingga tokoh muda yang naik lewat jalur organisasi, langkah politiknya selalu dianggap penuh manuver dan perhitungan.
Namun reaksi cepat DPW NasDem Kaltim membuat suasana semakin seru.
Dalam keterangan resminya, DPW NasDem Kaltim membantah tegas bahwa Mudyat Noor telah bergabung ke Gerindra. Mereka menegaskan bahwa kehadirannya di Rakerda Gerindra hanyalah sebagai tamu undangan, bukan peserta, bukan peninjau, apalagi kader yang sedang mengurus perpindahan.
Sikap cepat NasDem ini justru memperkuat pandangan publik bahwa partai tersebut sangat menjaga figur Mudyat Noor. Seolah ada kecemasan politik tersendiri bila sang Bupati PPU itu benar-benar “ganti seragam”. Wajar: Mudyat Noor adalah figur strategis menjelang era IKN; magnet politik, pemilik basis massa kuat, dan figur muda yang sulit digantikan.
Di sisi lain, spekulasi tetap bergulir. Banyak pengamat menilai bahwa kemunculannya di panggung Gerindra bukan sekadar basa-basi undangan biasa. Mudyat dikenal bukan tipe politisi yang hadir tanpa makna. Jejak aktivis dalam dirinya yang dulu di HMI terbentuk sebagai kader kritis, vokal dan penuh idealisme membuat setiap langkahnya dibaca sebagai sinyal politik.
Sejumlah relawan menyebut bahwa kedekatan Mudyat dengan berbagai tokoh Gerindra sudah lama terjadi. Bahkan dukungan Gerindra di Pilkada PPU menjadi alasan kuat munculnya bisik-bisik bahwa hubungan politik itu bisa saja berubah menjadi afiliasi penuh.
Masyarakat pun kini menunggu:
Apakah ini hanya rumor musiman? Atau justru pembuka babak baru perjalanan politik Mudyat Noor?
Yang jelas, apa pun langkah berikutnya, sosok aktivis reformasi yang kini memimpin PPU itu telah menjadi pusat perhatian. Setiap gerakannya dibaca, setiap kehadirannya ditafsir, dan setiap bajunya bahkan kemeja putih yang sederhana langsung memicu kegaduhan politik.
Drama ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Publik Kalimantan Timur kini hanya menunggu satu hal: pernyataan resmi dari Mudyat Noor sendiri. (Tim Redaksi)









