Ideanews.co, Penajam – Di tengah riuhnya KIM Festival 2025, satu sudut di area pameran mendadak menjadi titik perhatian. Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Kominfo, Fifi Aleyda Yahya, berhenti cukup lama di depan booth KIM Mangun Karya komunitas informasi asal Desa Bangun Mulya, Penajam Paser Utara (PPU), yang mewakili Kalimantan Timur pada gelaran tahun ini.
Booth yang dihias dengan nuansa Budaya Adat Paser itu tampil kontras di antara deretan stan dari berbagai daerah. Corak warna bumi, anyaman, serta simbol-simbol tradisi lokal membuat tampilan mereka menonjol. Fifi terlihat berdialog dengan anggota KIM, menanyakan konsep dekorasi, program kerja, hingga cara mereka mengelola konten berbasis komunitas.
KIM Mangun Karya tidak hanya mengandalkan visual. Mereka membawa aktivitas interaktif, live streaming, sesi podcast, hingga demo pengemasan konten digital khas komunitas desa.
Menurut pengurus KIM, keikutsertaan mereka di Tangerang menjadi kesempatan menunjukkan bahwa praktik literasi digital bisa tumbuh dari kampung, dengan gaya yang tetap bersandar pada identitas lokal.
Tak ketinggalan, rangkaian produk UMKM Desa Bangun Mulya ikut dipromosikan. “Ini Batik Sekar Buen, motifnya terinspirasi dari flora khas hutan Paser,” ujar salah satu anggota KIM saat memperkenalkan produk kepada pengunjung.
Ada pula Umbikoe, makanan berbahan dasar ubi yang mulai dikenal sebagai camilan khas Mangun Karya, serta keripik kulit singkong yang menjadi favorit pengunjung pada hari pertama festival.
KIM Festival 2025 yang berlangsung 14–15 November di Kota Tangerang kembali menjadi ruang bertemunya para penggerak informasi desa dari seluruh Indonesia.
Bagi KIM Mangun Karya, kunjungan Dirjen IKP menjadi penanda bahwa komunitas informasi dari desa pun dapat berbicara di panggung nasional, selama tetap menjaga kreativitas dan karakter lokal.









