Ideanews.co, Penajam – SMP Negeri 1 Penajam yang berlokasi di Jalan Provinsi Kilometer 1, Kelurahan Penajam, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), kerap mengalami banjir saat hujan turun. Genangan air yang masuk ke lingkungan sekolah bahkan dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar sehingga penanganan persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU telah memberikan bantuan pompa air untuk membantu pihak sekolah mengeluarkan air ketika terjadi banjir. Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan genangan agar aktivitas sekolah bisa kembali berjalan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdikpora PPU, Ricci Firmansyah, mengatakan pengadaan tiga unit pompa air tersebut menelan anggaran sekitar Rp16 juta. Pompa digunakan sebagai sarana pendukung untuk mengurangi genangan yang kerap muncul saat hujan.
“Tahun lalu kita sudah memberikan bantuan berupa pompa air. Jadi, pompa tersebut bisa difungsikan untuk mengeluarkan air ketika terjadinya banjir atau tergenang,” kata Ricci, Selasa (13/10/2026).
Meski bantuan pompa dapat membantu mengatasi genangan, Disdikpora PPU menilai persoalan banjir di SMPN 1 Penajam tetap membutuhkan penanganan lebih lanjut. Salah satu rencana yang disiapkan adalah revitalisasi ruang kelas, terutama bagian bangunan yang posisinya lebih rendah dan rentan terdampak genangan, termasuk kemungkinan perbaikan bangunan lama.
Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan penanganan tersebut. Karena itu, usulan revitalisasi diajukan kepada pemerintah pusat agar dapat ditindaklanjuti melalui program bantuan sesuai hasil penilaian kementerian.
“Nanti dari kementerian akan melakukan asistensi. Nanti yang mana mereka setujui, itu yang kita laksanakan,” bebernya.
Sementara itu, terkait wacana pemindahan SMPN 1 Penajam ke lokasi di depan SD Negeri 003 Penajam, Jalan Sukamaju RT 04, Kelurahan Gunung Seteleng, Ricci menyebut pihaknya belum menerima kebijakan resmi dari pimpinan. Menurutnya, relokasi sekolah membutuhkan kajian menyeluruh, termasuk kesiapan lahan dan kebutuhan anggaran untuk membangun gedung baru.
Dengan demikian, penanganan banjir melalui pompa air masih menjadi langkah jangka pendek, sembari menunggu kepastian program revitalisasi maupun keputusan lebih lanjut mengenai kemungkinan relokasi sekolah. (Adv/Nad)









