Ideanews.co, Kutai Timur – Masalah mahalnya harga pupuk dan terbatasnya akses terhadap pupuk bersubsidi menjadi keluhan utama para petani di Desa Kombeng Indah, Kecamatan Wahau, Kutai Timur. Keluhan itu mengemuka dalam sesi reses Anggota DPRD Kalimantan Timur, Budianto Bulang, yang digelar pada awal Juli 2025.
Sejumlah petani menyampaikan bahwa lonjakan harga pupuk non-subsidi membuat biaya produksi membengkak, sementara hasil panen tidak sebanding. Situasi ini membuat banyak lahan pertanian tidak tergarap maksimal karena keterbatasan modal.
“Kalau pupuk mahal dan subsidi sulit didapat, petani tidak bisa bergerak. Kami butuh bantuan pupuk agar bisa tetap menanam,” ujar Husein, petani setempat.
Budianto Bulang menyatakan keprihatinannya atas persoalan yang dihadapi para petani. Menurutnya, ketersediaan pupuk yang terjangkau adalah kunci keberlangsungan sektor pertanian di desa.
“Ini bukan keluhan baru, tapi belum ada solusi konkret. Saya akan perjuangkan aspirasi ini di DPRD agar pemerintah provinsi memberi perhatian khusus, terutama melalui bantuan langsung ke kelompok tani,” kata politisi Partai Golkar tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya pendataan yang akurat dan distribusi pupuk yang transparan. Dirinya meminta agar dinas terkait memperkuat sistem penyaluran bantuan agar benar-benar tepat sasaran.
“Kita butuh sistem distribusi pupuk yang adil. Jangan sampai petani aktif justru tidak kebagian karena persoalan birokrasi atau data yang tidak valid,” tegas Budianto.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya membangun ketahanan pangan lokal melalui dukungan nyata kepada sektor pertanian rakyat. Menurutnya, keberlangsungan pertanian adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan wakil rakyat.
“Petani tidak butuh janji, mereka butuh aksi. Saya akan kawal ini agar menjadi prioritas dalam pembahasan kebijakan di tingkat provinsi,” tambahnya.
Budianto berharap melalui kegiatan reses seperti ini, suara masyarakat desa bisa benar-benar didengar dan diterjemahkan dalam program pembangunan yang nyata, terutama bagi sektor yang menjadi tulang punggung kehidupan di desa. (Adv)









