Ideanews.co, Samarinda – Ancaman banjir akibat sedimentasi Sungai Mahakam di Samarinda kian meningkat, namun Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sugiyono, mengingatkan bahwa pengerukan sungai hanyalah solusi sementara dan tidak menyentuh akar masalah.
“Pengerukan hanya efektif di titik-titik tertentu, tapi sedimentasi berasal dari hulu. Jika hutan di hulu terus rusak, lumpur akan terus terbawa ke sungai dan mempercepat pendangkalan,” jelas Sugiyono, Rabu (9/7/2025).
Ia menegaskan bahwa pengelolaan kawasan hulu dengan reboisasi dan perlindungan hutan merupakan strategi utama untuk mengatasi persoalan sedimentasi dan banjir secara berkelanjutan.
“Kalau ingin sungai tetap sehat, hutan juga harus dijaga. Reboisasi bukan pilihan, tapi kewajiban,” tegasnya.
Sugiyono juga menyoroti minimnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan yang selama ini dianggap sepele, padahal kesadaran kolektif sangat penting dalam menjaga ekosistem sungai dan hutan.
Data WALHI Kaltim menunjukkan lebih dari 40 persen hutan di Kaltim rusak akibat aktivitas tambang dan alih fungsi lahan, yang memperparah sedimentasi Sungai Mahakam.
Legislator ini mendesak pemerintah provinsi untuk mengalihkan fokus dari pengerukan besar-besaran ke pengendalian tata air dan rehabilitasi kawasan hulu yang lebih murah dan berkelanjutan.
“Logikanya sederhana, hutan rusak berarti sungai rusak. Jika akar masalah ini tidak diperbaiki, pengerukan pun hanya akan jadi tindakan sementara tanpa hasil jangka panjang,” pungkasnya. (Adv)









