Ideanews.co, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat kualitas pendidikan nonformal melalui peningkatan kapasitas pengelola dan manajemen satuan pendidikan. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel sekaligus membekali masyarakat dengan keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Penguatan tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Pengembangan Kompetensi serta Manajemen Satuan Pendidikan Nonformal dalam Mewujudkan Pendidikan yang Profesional dan Berkualitas yang digelar di Royal Victoria Hotel Sangatta, 26-29 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti 83 peserta yang terdiri dari pengelola SKB dan PKBM, pamong belajar serta tutor dari 18 kecamatan di Kutai Timur. Kegiatan menghadirkan Fauzi Eko Pranyono yang juga menjabat Ketua Harian DPP Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional sebagai narasumber.
Kepala Bidang PAUD dan PNF Disdikbud Kutim Heri Purwanto, mewakili Kepala Disdikbud Kutim Mulyono, mengatakan penguatan manajemen menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan nonformal.
“Tujuan kita sebenarnya hari ini adalah bagaimana memperkuat kelembagaan kita dari sisi manajemen. Manajemen itu tidak hanya dalam pengertian yang sempit, tetapi lebih luas dan mencakup semua hal,” ujar Heri.
Menurutnya, manajemen satuan pendidikan nonformal mencakup berbagai aspek, mulai dari peserta didik, keuangan hingga proses pembelajaran. Namun, kegiatan tersebut lebih diarahkan pada pengembangan manajemen pembelajaran agar proses belajar semakin efektif dan menyenangkan.
Heri menilai pendidikan nonformal memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas waktu belajar yang dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Selain memberikan kesempatan memperoleh ijazah yang setara, pendidikan nonformal juga menjadi wadah pengembangan keterampilan dan pendidikan vokasi.
“Kalau yang belum mendapatkan pekerjaan itu bisa mendapatkan keterampilan, bisa mengembangkan keterampilan yang didapat, sehingga kita berharap akan tumbuh UMKM-UMKM baru di Kutai Timur,” katanya.
Menurut Heri, pengembangan keterampilan masyarakat juga berkaitan erat dengan upaya memperkuat perekonomian daerah. Kutai Timur yang masih memiliki ketergantungan terhadap sektor sumber daya alam, seperti pertambangan dan perkebunan, perlu mulai mempersiapkan sumber-sumber ekonomi alternatif.
“Kalau kita tidak kembangkan, secara otomatis nanti kondisi ekonomi kita akan terganggu. Banyak daerah yang karena tidak segera menyadari itu, pada akhirnya menjadi daerah yang tertinggal, bahkan mundur. Banyak contoh di Indonesia, terutama daerah-daerah eks tambang,” jelasnya.
Karena itu, pendidikan nonformal dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sekaligus kemampuan berwirausaha.
Penguatan kelembagaan dan kualitas pembelajaran diharapkan tidak hanya meningkatkan mutu pendidikan nonformal di Kutim, tetapi juga membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat melalui lahirnya pelaku usaha dan UMKM baru. (Tim Redaksi)









