Ideanews.co, Penajam – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mempercepat pembangunan kolam retensi di kawasan Embung Lawe-Lawe, Kelurahan Lawe-Lawe, Kecamatan Penajam. Proyek di atas lahan seluas 17 hektare tersebut dirancang untuk menampung cadangan air hingga sekitar 2,5 juta meter kubik.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) PPU memanfaatkan lahan pinjam pakai dari Pertamina untuk mengembangkan kawasan penampungan air tersebut. Pengerjaan ditargetkan selesai dalam waktu 2,5 bulan.
Sekretaris PUPR PPU, Ali Mustofa, menjelaskan pihaknya telah mengerahkan dua unit alat berat untuk mempercepat pekerjaan. Namun, kondisi lahan gambut dan cuaca menjadi perhatian karena dapat memengaruhi operasional alat berat di lapangan.
“Sementara ini, dua unit alat kita support di lapangan. Ke depan, selama 2,5 bulan pengerjaan, pengairan juga akan kita optimalkan semaksimal mungkin,” katanya.
Menurut Ali, hujan yang mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir mendorong pihaknya mengoptimalkan waktu pengerjaan. Karakteristik tanah gambut membutuhkan penanganan khusus agar alat berat tetap dapat bekerja dengan aman.
Tim di lapangan menerapkan metode tarik-dorong untuk mengurangi risiko alat berat terperosok atau tenggelam saat proses penggalian berlangsung.
“Kita memerlukan penanganan atau treatment khusus dengan metode tarik-dorong, karena alat berat bisa tenggelam sewaktu-waktu,” jelasnya.
Ali menyebut kedalaman rata-rata area pengerjaan mencapai sekitar empat meter. Dengan luas 17 hektare, kolam retensi tersebut diproyeksikan mampu menampung sekitar 2,5 juta meter kubik air sebagai cadangan untuk kebutuhan mendatang.
Selain menyimpan air, kolam retensi juga berfungsi mengendalikan aliran dari daerah tangkapan air atau catchment area. Sistem ini memungkinkan air tidak langsung terbuang melalui saluran pelimpah atau spillway menuju Sungai Lawe-Lawe.
“Jadi, ke depan air yang berada di catchment area ini tidak langsung mengalir melalui spillway menuju Sungai Lawe-Lawe. Aliran airnya masih bisa kita kendalikan,” ungkapnya.
Untuk mendistribusikan air, PUPR memanfaatkan kondisi alam yang sudah tersedia. Sistem tersebut tidak membutuhkan jaringan pipa karena air akan mengalir secara alami.
“Koneksinya memanfaatkan kondisi alam yang sudah ada. Tidak menggunakan pipanisasi, melainkan cukup dengan mengalirkan air secara alami,” tandasnya. (Adv/Nad)









