Ideanews.co, Opini – Indonesia memiliki cita-cita besar untuk mewujudkanIndonesia Emas 2045 sebagai bangsa maju, mandiri, dan berdaulat. Salah satu fondasi terpenting dalam mencapai visitersebut adalah pendidikan yang transformatif dan berkualitas. Transformasi pendidikan tidak sebatas peningkatan akademik, tetapi juga penguatan karakter, pembiasaan etika, sertakemampuan adaptasi yang relevan dengan tantangan global.
Pendidikan sebagai dasar sebuah kemajuan
Pendidikan lebih dari sekadar proses transfer ilmupengetahuan di ruang kelas; ia adalah fondasi utama kehidupan. Pendidikan merupakan proses sadar dan terencana untukmenciptakan suasana belajar yang memungkinkan peserta didikmengembangkan potensi diri secara aktif, mulai dari kekuatanspiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, hingga keterampilan yang dibutuhkan untukdirinya dan masyarakat. Pendidikan yang ideal menjadi pusatenkulturasi (pembudayaan) dan sosialisasi bagi generasi mudauntuk membentuk cara berpikir, etika, serta kemampuanberpartisipasi dalam masyarakat yang maju. Tanpa dasarpendidikan yang kuat, sebuah bangsa akan kesulitan berinovasidan bersaing di kancah dunia.
Tenaga Pendidik atau Guru sebagai Pilar Peradaban
Tenaga pendidik merupakan pilar utama yang menegakkanbangunan peradaban, karena jika pendidikan adalah fondasinya, maka guru menjadi penopang yang memastikan proses tersebutberjalan dengan baik. Pendidik adalah agen perubahan yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi teladandan motivator bagi para siswa. Dalam konteks Kota Samarindasebagai salah satu gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), peran pendidik menjadi semakin strategis dan vital. Samarinda tengah bertransformasi menjadi Kota Pusat Peradaban yang menyiapkan, mendukung, dan memasok sumberdaya manusia (SDM) berkualitas bagi masa depan Indonesia. Oleh karena itu, pendidik di Samarinda dituntut mampumenghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan abad ke-21 seperti berpikirkritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Mereka juga memainkan peran penting dalam menjaga kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila agar modernisasi tidak mengikis identitasbudaya bangsa. Di sisi lain, guru dituntut menumbuhkansemangat inovasi dan kewirausahaan sehingga generasi mudasiap membangun dan mengambil peran dalam pengembanganIKN dan masa depan bangsa.
Digitalisasi sebagai Perangkat Menuju Transformasi
Digitalisasi menjadi perangkat penting dalam mewujudkantransformasi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045. Transformasi ini bukan sekadar menghadirkan komputer di ruang kelas, tetapi memanfaatkan teknologi untuk mendukungperubahan pedagogis dan penerapan Merdeka Belajar. Digitalisasi mendorong pergeseran paradigma dari model pembelajaran konvensional menuju pembelajaran yang berpusatpada siswa. Pada model lama, guru menjadi sumber utamainformasi sehingga proses belajar bersifat satu arah, seragam, dan berorientasi pada hafalan serta hasil ujian. Sebaliknya, paradigma baru menempatkan siswa sebagai subjekpembelajaran yang aktif dan proaktif mencari informasi. Pembelajaran dirancang secara personal melalui diferensiasiuntuk memenuhi kebutuhan masing-masing siswa, dengan fokuspada kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis. Pemanfaatan teknologi sepertiplatform pembelajaran daring, e-book, dan analisis data membantu guru memberikan umpan balik lebih cepat, menyediakan sumber belajar yang lebih beragam, sertamenyesuaikan metode pembelajaran dengan gaya belajar setiapsiswa.
Digitalisasi Tanpa Meninggalkan Esensi Pendidikan
Digitalisasi adalah keniscayaan, namun perlu kehati-hatianagar esensi pendidikan tidak hilang karena teknologi hanyalahalat, bukan tujuan akhir. Esensi pendidikan harus tetap dijagamelalui pendidikan karakter dan budi pekerti yang menekankanpentingnya interaksi tatap muka, empati, serta nilai moral yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar. Dengan demikian, pendidik tetap berperan sebagai teladan dalam pembentukankepribadian siswa. Selain itu, hubungan manusiawi antara guru dan peserta didik menjadi kunci dalam menumbuhkan motivasidan rasa ingin tau yang mendalam. Pembiasaan diskusi dan kolaborasi juga perlu dipertahankan karena kemampuanberdiskusi, berargumen, dan bekerja sama secara langsungmerupakan keterampilan sosial penting yang harus terus dilatihdalam lingkungan fisik sekolah.
Transformasi pendidikan harus menerapkan pendekatanBlended Learning yang cerdas, di mana digitalisasidimanfaatkan untuk memperkaya konten, meningkatkanefisiensi administrasi, dan mempersonalisasi pembelajaran, sementara interaksi tatap muka dioptimallkan untukmenanamkan nilai, karakter, dan keterampilan sosial yang menjadi investasi jangka panjang bagi Indonesia Emas 2045. Transformasi ini merupakan tugas kolektif, dan dengan pilar pendidik yang kuat, semangat Merdeka Belajar, sertapemanfaatan teknologi yang bijaksana, Samarinda dan seluruhIndonesia siap mencetak generasi emas yang berintegritas dan kompetitif.
oleh : Dyah Ayu Wijaya
Guru Bimbingan Konseling SMP N 8 Samarinda, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Pengabdian PC ABKIN Kota Samarinda, Pengurus MGBK Kota Samarinda Bidang Perencanaan dan Pengembangan Organisasi.









