Ideanews.co, Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur sedang menggulirkan perubahan besar dalam paradigma pembinaan generasi muda.
Tak lagi berfokus pada pelatihan simbolik dan seminar kepemimpinan yang berakhir di ruang rapat, kini Dispora mengarahkan pembinaan pada satu tujuan utama: mencetak pemuda yang bisa menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
“Banyak dari mereka pintar bicara soal kepemimpinan, tapi bingung ketika harus bayar uang kos atau bantu ekonomi keluarga. Ini realitas yang harus kita ubah,” ujar Analis Kebijakan Ahli Muda Dispora Kaltim, Rusmulyadi, Jumat (20/6/2025).
Selama bertahun-tahun, pola pembinaan pemuda cenderung berputar dalam siklus kegiatan tahunan: lomba organisasi, seminar motivasi, pelatihan dasar kepemimpinan. Namun Dispora Kaltim kini menilai pendekatan seperti itu tak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.
“Pemuda hari ini tidak butuh panggung bicara semata. Mereka perlu dibekali kemampuan mengelola risiko, membaca peluang, membangun usaha, dan bangkit saat gagal,” tegas Rusmulyadi.
Transformasi ini dituangkan melalui konsep pembinaan berbasis kewirausahaan sosial, yang tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga kepekaan terhadap potensi lokal dan dampak sosial.
Pemuda diajak untuk melihat peluang di sekitar mereka: dari limbah rumah tangga yang bisa disulap menjadi produk bernilai, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk jasa berbasis daring.
Rusmulyadi menekankan, pembinaan juga akan dibarengi dengan kolaborasi lintas sektor. Peserta pelatihan nantinya akan terhubung dengan Dinas Tenaga Kerja untuk pelatihan lanjutan dan sertifikasi keterampilan, sekaligus akses ke dunia industri atau pengembangan UMKM.
“Pelatihan tidak boleh berhenti di ruang aula. Kita siapkan jembatan menuju tahapan nyata ke usaha, ke pasar kerja, ke lapangan,” katanya.
Bagi Dispora Kaltim, kemandirian ekonomi adalah bentuk kepemimpinan paling nyata. Di era disrupsi, keberanian memulai usaha dan bertahan di tengah krisis jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar keahlian berdebat.
“Kita tidak butuh pengamat baru. Kita butuh pelaku. Anak muda yang menciptakan solusi, bukan yang sibuk berteori tentang perubahan tanpa pernah membuatnya,” ujar Rusmulyadi.
Lebih dari sekadar jargon, langkah ini diharapkan benar-benar memutus ketergantungan pemuda terhadap lapangan kerja formal yang semakin terbatas. Jika berhasil, efeknya bukan hanya pada individu, tetapi pada struktur ekonomi lokal secara keseluruhan.
“Kalau satu pemuda saja bisa ciptakan satu lapangan kerja, kita sudah bicara tentang dampak sistemik. Kita sedang menyelamatkan masa kini, sambil membangun masa depan,” tutupnya.
Dengan arah baru ini, Dispora Kaltim ingin menciptakan generasi muda yang tak hanya siap memimpin, tapi juga mampu bertahan, bergerak, dan memberi makna nyata bagi lingkungannya. (Adv)









