Ideanews.co, Balikpapan – Di bawah terik matahari siang itu, suara lantang mahasiswa menggema di depan Mapolda Kalimantan Timur. Puluhan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengenakan gordon dan mutsnya, berdiri tegak menyuarakan tuntutan keadilan. Bukan untuk mencari sensasi, tapi menyuarakan rasa sakit yang dirasakan tiga saudara sehimpun mereka di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, luka bakar yang bukan hanya fisik, tapi juga mencederai rasa keadilan.
Aksi damai yang digelar HMI Badan Koordinasi (Badko) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dan diikuti oleh kader HMI Cabang Balikpapan pada Senin, (28/7/2025) ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Ini adalah bentuk solidaritas yang tumbuh dari amarah dan kepedulian terhadap peristiwa yang mereka nilai sebagai tragedi kemanusiaan. Tiga kader Hijau Hitam menjadi korban dalam unjuk rasa di Tanjung Selor beberapa waktu lalu, diduga akibat tindakan represif aparat yang berujung pada luka bakar serius.
“Kami datang bukan untuk membuat kekacauan, tapi membawa nurani. Luka mereka adalah luka kami semua,” kata Ashan Putra Pradana, Ketua HMI Badko Kaltim-Kaltara, dengan suara tegas namun mata yang menyiratkan kepedihan.
Ashan dan rekan-rekannya menuntut tiga hal utama : evaluasi terhadap Kapolda Kalimantan Utara, pengusutan terhadap oknum aparat yang diduga terlibat dalam kekerasan, serta investigasi menyeluruh atas dugaan penyiraman bahan bakar yang menyebabkan luka bakar.
Spanduk bertuliskan “Keadilan untuk Kader Kami” terangkat tinggi di antara barisan massa. Tidak ada kericuhan, hanya suara lantang yang mencoba mengetuk nurani institusi penegak hukum.
Aksi damai itu pun mencapai puncaknya saat perwakilan massa diterima oleh pejabat dari Polda Kaltim. Tiga poin tuntutan diserahkan secara resmi, dan pihak kepolisian berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pimpinan serta memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur.

Namun bagi HMI, janji saja tak cukup.
“Kami akan terus mengawal. Luka ini tidak bisa dibiarkan mengering tanpa keadilan,” ujar Ashan, sebelum massa membubarkan diri secara tertib.
Hari itu, di depan Mapolda Kaltim, bukan hanya suara mahasiswa yang terdengar. Tapi juga jeritan diam dari luka yang belum sembuh dan semangat solidaritas yang terus menyala. (Tim Redaksi)









