Dari Tugas Puisi di Kelas, Ratu Cinta Cantika Lahirkan Buku Pertamanya

Kronik yang Gugur di Ambang Kehadiran Penulis: Ratu Cinta Cantika. (Ilustrasi Buku)

Ideanews.co, Samarinda Sebuah tugas menulis puisi di ruang kelas ternyata bisa menjadi awal dari lahirnya sebuah buku.

Bagi Ratu Cinta Cantika, siswi SMA Negeri 16 Samarinda, puisi yang semula ditulis sebagai bagian dari pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kini telah menjelma menjadi sebuah antologi berjudul Kronik yang Gugur di Ambang Kehadiran.

Buku setebal 79 halaman itu kini menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Akshara Gyanaloka setelah diserahkan oleh Ratu pada Senin (14/9/2026).

Antologi tersebut diterbitkan oleh Penerbit Pena Persada dengan Ande Rifki Ajisaputro sebagai editor. Di balik terbitnya buku itu, ada proses panjang yang bermula dari tugas sederhana di kelas XI.

Bermula dari Sebuah Tugas

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 16 Samarinda, Andre Rifki Ajisaputro, mengatakan ide penerbitan antologi itu muncul ketika siswa mendapatkan materi mengenai puisi.

Para siswa kemudian diminta menulis karya masing-masing. Dari tugas tersebut, Andre melihat ada sejumlah siswa yang memiliki potensi untuk mengembangkan tulisannya menjadi sebuah buku.

Ia pun menawarkan kesempatan kepada beberapa siswa untuk menyusun antologi puisi.

Namun, proses tersebut tidak mudah. Dari beberapa siswa yang diberi kesempatan, hanya Ratu yang mampu menyelesaikan naskah hingga tuntas.

“Awalnya memang menulis puisi menjadi salah satu materi di kelas 11. Dalam praktiknya anak-anak diminta untuk menulis puisi. Kemudian, saya secara pribadi menindaklanjuti dengan menawarkan kepada beberapa anak untuk membuat sebuah antologi puisi. Namun, dalam perjalanannya hanya satu anak yang mampu menyelesaikan naskah,” ujar Andre.

Dari situlah perjalanan Kronik yang Gugur di Ambang Kehadiran dimulai.

Guru Tidak Menulis, Hanya Membuka Jalan

Dalam proses kreatifnya, Ratu tidak diarahkan untuk mengikuti gaya tertentu. Justru, ia diberikan ruang untuk menemukan suara dan caranya sendiri dalam menulis.

Andre lebih banyak berperan sebagai pendamping. Teknik penulisan yang telah dipelajari di kelas menjadi bekal, sementara gagasan dan isi karya tetap menjadi wilayah Ratu sebagai penulis.

“Saya lebih menekankan kebebasan dan kreativitas anak. Jujur saja, secara isi saya tidak memiliki andil. Saya hanya mengarahkan anak untuk berani menulis dengan jujur, tentunya juga dengan menerapkan teknik menulis yang telah saya ajarkan di kelas sebelumnya,” jelasnya.

Sesekali, Andre memberikan masukan mengenai pemilihan diksi maupun tipografi. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Ratu.

Bagi Andre, pendampingan bukan tentang membentuk karya sesuai keinginan guru, melainkan membantu siswa menemukan keberanian untuk menyelesaikan gagasannya sendiri.

Ketika Potensi Diberi Ruang

Andre meyakini bahwa kemampuan menulis bukan hanya milik siswa yang sejak awal dianggap berbakat.

Menurutnya, setiap anak memiliki potensi untuk menghasilkan karya. Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan ruang untuk mengeluarkannya.

“Saya percaya bahwa setiap orang punya potensi untuk menulis. Saya hanya memberikan kesempatan dan jalan agar potensi tersebut keluar dengan maksimal,” katanya.

Pandangan itu pula yang mendorong SMA Negeri 16 Samarinda untuk terus memberikan ruang bagi siswa yang memiliki ketertarikan terhadap dunia kepenulisan.

Sebab, sebuah karya tidak semestinya berhenti di buku tugas atau tersimpan di dalam laci. Karya akan menemukan maknanya ketika dibaca dan menjadi bagian dari pengalaman orang lain.

“Saya percaya bahwa sebuah karya sastra menjadi benar-benar karya sastra jika dibaca oleh orang lain. Dalam hal ini sekolah punya andil besar, yakni mendistribusikan ke berbagai pihak,” ujarnya.

Penyerahan buku Ratu ke perpustakaan sekolah menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut.

Satu Buku, Awal dari Gerakan Literasi

Terbitnya Kronik yang Gugur di Ambang Kehadiran belum menjadi program khusus sekolah yang secara formal mengatur penerbitan karya sastra siswa.

Namun, Andre melihat dukungan sekolah sebagai bagian penting dari perjalanan buku tersebut.

“Ya, bisa dikatakan sebagai program sekolah dan program saya sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Memang belum ada program secara spesifik dari sekolah terkait penulisan buku atau karya sastra. Akan tetapi dukungan dan apresiasi yang diberikan dari sekolah juga berdampak besar untuk penyelesaian antologi puisi tersebut,” katanya.

Perpustakaan SMA Negeri 16 Samarinda sebelumnya juga telah membuka ruang bagi siswa yang tertarik pada dunia kepenulisan melalui berbagai kegiatan dan pelatihan.

Bagi Andre, karya yang lahir dari siswa bukan sekadar produk pembelajaran. Ia merupakan bentuk eksistensi siswa sekaligus jejak kesusastraan yang tumbuh di lingkungan sekolah.

“Saya pribadi sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia memang menginginkan adanya sebuah karya yang lahir dari anak-anak. Karya tersebut sebagai bentuk eksistensi diri dan kesusastraan di sekolah,” lanjutnya.

Ke depan, Andre menargetkan setidaknya ada satu karya yang lahir setiap tahun dari siswa maupun guru SMA Negeri 16 Samarinda.

Ratu Membuka Pintu bagi Penulis Berikutnya

Keberhasilan Ratu menerbitkan buku pertamanya diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi.

Justru, buku tersebut diharapkan menjadi pintu pembuka bagi siswa lain untuk berani menulis dan menerbitkan karya.

Andre mengatakan, berbagai pelatihan menulis yang telah dilakukan perpustakaan dapat menjadi fondasi awal untuk membangun program literasi yang lebih terarah.

“Tentu saja, keberhasilan menerbitkan antologi karya Ratu Cinta akan menjadi langkah awal pembentukan program. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa program yang mendorong terciptanya karya telah dimulai oleh perpustakaan melalui berbagai pelatihan menulis,” ungkapnya.

Ke depan, berbagai unsur di lingkungan sekolah dapat diintegrasikan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung proses kreatif siswa.

Dengan demikian, Ratu tidak menjadi satu-satunya nama yang tercatat sebagai penulis muda dari SMA Negeri 16 Samarinda.

Bukan Buku Terakhir

Bagi seorang penulis yang baru menerbitkan buku pertama, satu karya bukanlah garis akhir.

Andre berharap pengalaman Ratu dalam menyelesaikan dan menerbitkan antologi puisi menjadi pijakan untuk terus berkarya.

Tidak hanya di bidang sastra, tetapi juga di berbagai bidang lain yang kelak dipilihnya.
“Saya berharap bahwa setelah terbit antologi puisi yang pertama, dapat menjadi langkah awal untuk terus berkarya. Tentu saja tidak hanya dalam bidang penulisan sastra, melainkan juga pada bidang-bidang lain,” pungkasnya.

Dari sebuah tugas di kelas, lahirlah sebuah buku.

Dari sebuah buku, terbuka sebuah ruang.

Dan dari ruang itulah, SMA Negeri 16 Samarinda berharap lebih banyak suara muda menemukan keberanian untuk menulis, berkarya, dan meninggalkan jejaknya sendiri.

Identitas Buku

Judul: Kronik yang Gugur di Ambang Kehadiran
Penulis: Ratu Cinta Cantika
Penerbit: Penerbit Pena Persada
Jenis karya: Kumpulan Puisi (Antologi Puisi)
Ketebalan: VI + 73 halaman / total 79 halaman
Editor: Ande Rifki Ajisaputro

(Tim Redaksi)

Related posts

banner 868x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *