Ideanews.co, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda berencana menerapkan sistem satu arah (SSA) di Jalan Abul Hasan. Kebijakan ini digadang-gadang mulai berlaku pekan depan, tepatnya Selasa atau Rabu (23/24 September 2025), guna mengurai kemacetan yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
Rencana tersebut langsung memunculkan tanggapan dari berbagai kalangan. Aniya, mahasiswi asal Samarinda Seberang, mengaku belum mendapat informasi sebelumnya. Meski merasa jalur pulang pergi akan lebih jauh, ia menilai kebijakan itu bisa membawa manfaat.
“Kalau aku pribadi sih lumayan muter, karena rumah di seberang. Tapi positifnya, jalan ini sering macet kalau dua arah. Jadi lebih tertib,” katanya, Sabtu (20/9/2025).
Jeje, mahasiswa lain yang tinggal di Palaran, juga menilai penerapan satu arah bakal memengaruhi jalur perjalanan.
“Jadi harus lewat perempatan City Centrum. Memang nggak terlalu muter, tapi lebih jauh karena kena lampu merah. Kalau lewat sini kan nggak kena lampu merah,” ujarnya.
Kendati ada rasa keberatan, keduanya tetap memberi dukungan dengan tingkat yang berbeda. Aniya memberi nilai 8 dari 10 sebagai bentuk dukungan, dengan alasan keselamatan pengguna jalan.
“Lebih aman, tapi Dishub harus lebih tegas. Masih banyak pengendara yang lawan arah walau jalur sudah ditutup, itu berbahaya,” tambahnya.
Sementara Jeje memberi nilai 5 dari 10. “Ya karena agak ribet saja. Tapi kalau untuk mengurangi macet, bisa dimaklumi,” jelasnya.
Tak hanya mahasiswa, pekerja transportasi juga ikut merespon. Madi, seorang pengemudi ojek online, merasa sistem satu arah bisa menyulitkan pekerja lapangan seperti dirinya.
“Boros bensin, rute jadi lebih jauh, dan pelanggan bisa menunggu lama. Kami sering mondar-mandir, jadi terasa berat kalau jalurnya dibatasi,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap memahami jika kebijakan ini demi kebaikan lalu lintas kota.
“Kalau bisa, motor tetap boleh dua jalur. Jadi aktivitas masyarakat tetap lancar,” tutup Madi. (Bey)









