Jejak Seorang Kader: Mudyat Noor dari Bangku Kuliah hingga Kursi Bupati

Dari aktivis HMI, legislator, dua periode memimpin KAHMI Samarinda, hingga kini menjadi Bupati Penajam Paser Utara. (Idnews)

Ideanews.co, Samarinda – Perjalanan Mudyat Noor menuju jajaran Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Kalimantan Timur tidak lahir dalam satu malam.

Di belakangnya terdapat perjalanan panjang yang bermula dari keluarga, berlanjut ke bangku kuliah dan organisasi mahasiswa, kemudian masuk ke dunia politik, parlemen, KAHMI hingga pemerintahan.

Bacaan Lainnya

Kini, Mudyat kembali mendapatkan amanah di rumah besar alumni HMI di tingkat Kalimantan Timur. Ia resmi terpilih sebagai salah satu Presidium MW KAHMI Kaltim bersama enam presidium lainnya.

Posisi tersebut menambah panjang rekam jejaknya di KAHMI setelah sebelumnya dipercaya memimpin Majelis Daerah KAHMI Kota Samarinda selama dua periode.

Namun jauh sebelum berada di panggung politik dan pemerintahan, Mudyat tumbuh dari keluarga yang dekat dengan dunia pendidikan.

Mudyat Noor lahir di Samarinda pada 9 Februari 1979. Ia merupakan putra pasangan Mahmud dan Yatinah.

Ayahnya, Mahmud, dikenal sebagai guru ASN di Samarinda. Sementara ibunya, Yatinah, selain menjadi ibu rumah tangga juga dikenal sebagai guru mengaji Al-Qur’an di lingkungan tempat tinggalnya.

Latar keluarga tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Mudyat.

Ia bukan lahir dari keluarga yang sebelumnya dikenal sebagai keluarga elite politik. Jalan menuju dunia politik dan pemerintahan justru ditempuhnya melalui pendidikan, organisasi dan aktivitas kemasyarakatan.

Dalam sebuah wawancara, Mudyat pernah menggambarkan dirinya berasal dari keluarga sederhana. Ia juga menekankan pentingnya kemauan belajar dan berusaha untuk mencapai keberhasilan.

Prinsip itu kemudian mendapat ruang ketika Mudyat memasuki Universitas Mulawarman.

Di kampus inilah fase penting dalam kehidupannya dimulai.

Mudyat menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman sejak 1996.

Sebagai mahasiswa, ia aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan kepemimpinannya.

Generasi Mudyat berada pada masa ketika gerakan mahasiswa memainkan peran besar dalam perubahan sosial dan politik Indonesia.

Reformasi 1998 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan generasi tersebut. Mudyat disebut turut terlibat dalam gerakan mahasiswa pada masa Reformasi.

Pengalaman di HMI tidak hanya mempertemukannya dengan tradisi intelektual dan perkaderan, tetapi juga dengan dunia organisasi, kepemimpinan dan advokasi.

Dari sinilah jejaring yang kemudian membentuk perjalanan kariernya mulai terbentuk.

Setelah menyelesaikan pendidikan, aktivitas Mudyat tidak berhenti pada organisasi mahasiswa.

Ia kemudian aktif dalam sejumlah organisasi kepemudaan dan dunia usaha, termasuk KNPI, HIPMI dan KADIN.

Pengalaman organisasi tersebut menjadi modal sosial ketika ia kemudian memasuki dunia politik praktis.

Pemilu 2009 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Mudyat Noor.

Di usia sekitar 30 tahun, ia berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur periode 2009-2014 melalui Partai Amanat Nasional (PAN).

Kursi legislatif tersebut menjadi pintu masuk Mudyat ke ruang pengambilan kebijakan publik.

Dari aktivis mahasiswa, ia kini berada di lembaga yang berhadapan langsung dengan persoalan pembangunan daerah, anggaran dan aspirasi masyarakat.

Karier politiknya kemudian berlanjut.

Pada Pemilu 2014, Mudyat mencoba melangkah ke tingkat nasional dengan maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur.

Langkah tersebut belum membawanya ke Senayan.

Setahun kemudian, ia kembali berada di arena politik lokal.

Mudyat maju sebagai calon Wali Kota Samarinda pada Pilkada 2015 dengan menggandeng Iswandi sebagai calon wakil wali kota.

Meski belum berhasil memenangkan kontestasi tersebut, pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan politiknya.

Di tengah perjalanan politiknya, hubungan Mudyat dengan HMI tidak pernah benar-benar terputus.

Jalur tersebut berlanjut melalui Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau KAHMI.

Mudyat dipercaya menjadi Ketua Majelis Daerah KAHMI Kota Samarinda selama dua periode, 2016-2021 dan 2021-2026.

Satu dekade memimpin KAHMI Samarinda menempatkannya dalam posisi penting di antara alumni HMI di daerah.

Selama periode tersebut, KAHMI Samarinda menjadi salah satu ruang yang mempertemukan alumni HMI dari berbagai profesi politisi, birokrat, pengusaha, akademisi hingga profesional.

Mudyat sendiri menjadi salah satu figur yang bergerak di lintas ruang tersebut.

Ia memiliki pengalaman sebagai aktivis HMI, legislator, pelaku organisasi, dan kemudian kepala daerah.

Dalam Musda VI KAHMI Samarinda pada 2026, Mudyat hadir sebagai ketua demisioner. Momentum tersebut sekaligus menandai berakhirnya satu dekade kepemimpinannya di organisasi alumni HMI Samarinda.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan generasi berikutnya.

Namun berakhirnya masa kepemimpinan di Samarinda tidak berarti berakhirnya perjalanan Mudyat di KAHMI.

Justru, ruang pengabdiannya bergerak ke tingkat yang lebih luas.

Babak berikutnya membawa Mudyat ke Penajam Paser Utara.

Dalam Pilkada PPU 2024, Mudyat berpasangan dengan Abdul Waris Muin.

Pasangan tersebut memenangkan pemilihan dengan perolehan 40.159 suara atau 37,51 persen suara sah, berdasarkan hasil yang ditetapkan KPU.

Mudyat dan Abdul Waris kemudian ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati PPU terpilih.

Pada Februari 2025, Mudyat Noor resmi menjalankan tugas sebagai Bupati Penajam Paser Utara periode 2025-2030.

Posisi tersebut menjadi fase baru dalam perjalanan politiknya.

Jika sebelumnya ia banyak berhadapan dengan politik organisasi dan legislatif, kini tanggung jawabnya berada di ruang eksekutif.

Sebagai kepala daerah, ia berhadapan langsung dengan pelayanan publik, pembangunan, ekonomi daerah dan berbagai persoalan masyarakat.

Posisi PPU juga memiliki arti strategis.

Kabupaten tersebut menjadi salah satu wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Ibu Kota Nusantara.

Dengan demikian, perjalanan Mudyat dari aktivis hingga kepala daerah berlangsung beriringan dengan perubahan besar yang terjadi di Kalimantan Timur.

Di balik identitasnya sebagai putra Samarinda, Mudyat juga memiliki akar keluarga dari Sulawesi Selatan.

Dalam sebuah kegiatan Himpunan Masyarakat Sinjai (Himas) Kalimantan Timur, Mudyat mengungkapkan bahwa dirinya memiliki darah keturunan Bugis Sinjai dari garis ayah.

Ia menyebut sang ayah berasal dari Kelurahan Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai.

Jejak tersebut menambah warna dalam perjalanan hidup Mudyat.

Ia lahir dan tumbuh di Samarinda, membangun karier politik dan pemerintahan di Kalimantan Timur, tetapi memiliki akar keluarga dari masyarakat Bugis Sinjai.

Kalimantan Timur sendiri selama puluhan tahun menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat dari seluruh Indonesia.

Dalam konteks itulah perjalanan keluarga Mudyat menjadi bagian dari mozaik sosial Kalimantan Timur.

Kini, setelah satu dekade memimpin KAHMI Samarinda dan memasuki fase baru sebagai Bupati PPU, Mudyat kembali mendapat amanah di tingkat wilayah.

Terpilihnya ia sebagai salah satu Presidium MW KAHMI Kalimantan Timur menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang tersebut.

Ada satu benang merah yang terus bertahan dalam perjalanan Mudyat Noor: HMI dan KAHMI.

HMI menjadi salah satu ruang yang membentuk dirinya ketika masih mahasiswa.

KAHMI kemudian menjadi ruang pengabdian setelah ia meninggalkan kampus.

Dari sana, perjalanan Mudyat berkembang ke dunia politik, legislatif dan pemerintahan.

Kini, pengalaman tersebut dibawanya kembali ke organisasi alumni HMI dalam lingkup yang lebih luas.

Jika perjalanan Mudyat Noor dirangkum dalam satu garis waktu, jalurnya cukup panjang.

1996: memasuki Universitas Mulawarman dan aktif di HMI.

1998: menjadi bagian dari generasi aktivis mahasiswa pada era Reformasi.

2009-2014: menjadi anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur.

2014: maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur.

2015: maju sebagai calon Wali Kota Samarinda.

2016-2021: memimpin MD KAHMI Samarinda periode pertama.

2021-2026: kembali dipercaya memimpin MD KAHMI Samarinda untuk periode kedua.

2024: memenangkan Pilkada Penajam Paser Utara bersama Abdul Waris Muin.

2025-2030: menjabat Bupati Penajam Paser Utara.

2026: dipercaya menjadi salah satu Presidium MW KAHMI Kalimantan Timur.

Rangkaian itu memperlihatkan sebuah perjalanan yang bergerak dari ruang mahasiswa menuju ruang kekuasaan, tetapi tetap memiliki hubungan dengan organisasi yang menjadi salah satu titik awal pembentukan dirinya.

Dari rumah seorang guru, Mudyat tumbuh menjadi aktivis mahasiswa.

Dari HMI, ia masuk ke dunia politik.

Dari parlemen, ia bergerak menuju kontestasi kepala daerah.

Dari KAHMI Samarinda selama dua periode, kini ia berada di tingkat wilayah.

Dan dari Samarinda, ia kini memimpin Penajam Paser Utara salah satu wilayah paling strategis dalam perkembangan Kalimantan Timur.

Pada titik inilah perjalanan Mudyat Noor memasuki babak baru.

Bukan lagi sekadar perjalanan seorang kader HMI, politisi atau kepala daerah, tetapi juga perjalanan seorang alumni yang kembali mendapatkan amanah untuk ikut menentukan arah organisasi KAHMI di Kalimantan Timur. (Tim Redaksi)

Pos terkait

banner 868x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *